Jenis bibit kelapa sawit

Kurangnya pengetahuan dan informasi yang diterima petani mengenai pengadaan bibit unggul kelapa sawit sering menjadi kendala dalam usaha budidaya kelapa sawit. Sering terjadi, bibit bibit liar yang tidak diketahui secara pasti pohon induknya diperjualbelikan dengan bebas dan dibudidayakan di perkebunan – perkebunan. Akibatnya, produksi yang diharapkan tidak dapat maksimal. Bahkan mungkin belum sampai berbuah tanaman sudah terserang hama atau penyakit

Bagi orang yang awam dalam masalah bibit kelapa sawit, memang sulit untuk mengenali dan membedakan antara bibit liar dan bibit unggul. Sebaliknya, bagi yang sudah ahli dapat dengan mudah membedakannya yaitu dengan melihat ciri fisiknya

Berdasarkan kenyataan diatas dan untuk memenuhi permintaan bibit kelapa sawit yang semakin banyak, pada saat ini sudah dikenal bibit kelapa sawit yang berasal dari kemajuan teknologi yaitu teknologi kultur jaringan. Cara ini dianggap lebih praktis dan mampu mengatasi beberapa kesulitan pengembangbiakan kelapa sawit yang berasal dari biji. Walaupun demikian, belum semua perkebunan kelapa sawit dapat mengusahakan bibit yang berasal dari kultur jaringan. Sebab untuk menghasilkan bibit dengan cara ini membutuhkan laboratorium dan tenaga khusus yang sudah ahli.

Berikut adalah uraian mengenai jenis jenis bibit kelapa sawit

Benih dan bibit liar

Ada beberapa ciri fisik yang dapat digunakan untuk membedakan benih atau bibit liar dengan bibit unggul.

Setelah mengetahui ciri ciri, diharapkan dapat memilih bibit yang baik. Berikut akan dikemukakan ciri ciri benih dari bibit liar

  1. Ciri ciri fisik biji atau kecambah liar
  • Tempurung bijinya tipis
  • Bijina masih banyak mengandung serabut, permukaannya kasar dan kotor karena pengupasannya tidak dilakukan dengan benar
  • Panjang radicula (calon akar) dan plumula (calon batang tidak seragam sebab memang tidak dilakukan seleksi biji)
  • Persentase kematian dari biji/kecambah cukup besar sebab sebelumnya biji tidak direndam dalam fungsida
  1. Ciri ciri fisik bibit liar
  • Pertumbuhan bibit tidak seragam sebab bibit berasal dari induk yang tidak sama
  • Persentase pertumbuhan bibit yang abnormal cukup tinggi
  • Bibit terlihat kurus karena endosperm yang berisi cadangan makanan berukuran kecil
  • Lebih mudah terserang hama penyakit
  1. Ciri ciri fisik tanaman yang berasal dari bibit liar
  • Tanaman yang tumbuh ubnormal semakin banyak di jumpai dan abnormalitas sebagai bakat bawaan ada yang muncul pada usia yang lebih lama
  • Pertumbuhannnya tidak seragam baik tinggi, besar batang, maupun lebar tajuk
  • Produksi per tanaman sangat bervariasi, bahkan sekitar 25% tidak berbuah, 50% berbuah tapi rendemen minyak rendah, dan 25% kemungkinan berbuah baik

Benih / Bibit Unggul

Untu menghindari penanaman benih atau bibit liar, sebaiknya dipilih bibit kelapa sawit yang telah diuji dan benar benar baik kualitasnya

Berdasarkan permasalahan diatas, surat keputusan menteri pertanian nomor: KB. 320/261/Kpts/5/1984, pusat penelitian Marihat, Balai Penelitian Perkebunan Medan, dan P.T. Socfin Indonesia ditunjuk secara resmi sebagai sumber dan produsen benih unggul kelapa sawit. Hal ini menyiratkan bahwa benih yang dikeluarkan oleh instansi yang tidak berwenang, berasal dari biji biji yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dari segi produktivitasnya. Bibit kelapa sawit yang diproduksi merupakan kecambah yang bukan berasal  dari sembarang biji, melainkan dari hasil perkawinan antara Dura Deli x Pisifera SP 540 dan Dura Dumpy x Pisifera SP 540.

Beberapa ciri yang bisa digunakan untuk menandai kecambah yang dikategorikan baik dan layak untuk ditanam antara lain sebagai berikut:

Bibit kultur jaringan

Penyedian bibit yang berasal dari biji dalam jumlah banyak makin sulit diandalkan. Selain bahan bibitnya terbatas, juga kurang praktis. Dengan adanya kemajuan tekonologi, saat ini sudah dikenal teknologi kultur jaringan (tissue culture). Teknologi ini merupakan satu cara untuk mendapatkan klon kelapa sawit dengan perlakuan khusus dari bahan biakann yang berupa jaringan muda. Jaringan muda yang digunakan sebagai bahan perbanyakan (ekslan) tanaman kelapa sawit adalah daun muda (janur) atau ujung akar.

Teknologi kultur jaringan kelapa sawit dimulai di Perancis pada tahun 1970-an. Pada tahun 1974 dihasilkan tanman kelapa sawit pertama dari metode kultur jaringan di Unilever Reseaceh Laboratory Of London. Dua tahun kemudian, Badan Penelitian kelapa sawit Perancis, IRHO (institut de Recherches les Huiles et Oleagineux) menyusul memperoleh kelapa sawit dengan metode ini dan ditanamn di Pantai Gading pada tahun 1978. Di Indonesia, teknik kultur jaringan tanaman kelapa sawit antara lain dikembangkan oleh PT. Socfindo, Pusat Penelitian Marihat dan Balai Penelitian Perkebunan Medan (seluruhnya berada disumatera utara).

Kelebihan penggunana teknik kultur jaringan diataranya sebagai berikut:

  • Satu altenatif untuk meningkatkan produksi minya dari 5-6 ton/ha/tahun menjadi 7-9 ton/ha/tahun atau 32-40 ton TBS/ha/tahun
  • Mengatasi kesulitan perbanyakan tanaman kelapa sawit secara konvensional, yaitu dengan menggunakan biji
  • Meningkatkan keseragaman ganaman kelapa sawit sehingga diharapkan akan mengurangi variasi produksi, termasuk rendemen minyak
  • Mempercepat waktu pemanenan sehingga dari segi ekonomi menguntungkan
  • Mampu mengatasi masalah kesulitan perkecambahan, terutama pada jenis jenis atau varietas yang agak sulit dikecambahkan

Memesan bibit dari produsen resmi yang ditunjuk pemerintah

Bagi pengusaha atau petani yang ingin mengusahakan perkebunan kelapa sawit, pda saat ini sudah ada kemudahan dalam memperoleh bibit kelapa sawit. Ada beberapa pusat penelitian perkebunan (Puslitbun) dan perkebunan swasta yang secara legal melakukan penjualan bibit kelapa sawit unggul yang bersertifikat

Pada dasarnya proses pembuatan bibit tidak berbeda jauh dengan pembibitan yang diusahakan sendiri.  Akan tetapi, kualitas bibit ini akan dijual kepada masyarakat luas, maka kualitas bibit dan tanaman dewasanya kelak harus dapat dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, proses pembuatan bibitnya dilakukan secara lebih teliti. Berikut ini akan diuraikan secara sederhana, mulai dari penyediaan benih sampai cara mendapatkan bibit bersertifikat.

Untuk mendapatkan benih bersertifikat dari produsen resmi benih unggul kelapa sawit, antara lain pusat penelitian perkebunan medan, ada prosedur yang harus dijalani pemesan atau pembeli. Urutan urutan yang harus dijalani sebagai berikut:

  • Setiap pembeli atau pemesan benih mengajukan surat pesanan kepada Direktur Pusat Penelitian Perkebunan (RSIPA) Medan
  • Surat pesanan benih tersebut berisi keterangan tentang jumlah benih yang dipesan, jenis benih, waktu pesanan, luas lahan yang akan ditanam, dan lokasi penanaman.
  • Lokasi meliputi nama desa, kecamatan, dan kabupaten
  • Jawaban tertulis diberikan oleh Puslitbu (RISPA) Medan tentang kesanggupan pesanan dan harus ada persetujuan dari pemesan
  • Untuk menguatkan transaksi, dibuat surat perjanjian jual beli benih antara pihak pembeli/pemesan dengan Puslibutn (RISPA) Medan, dengan cara mengisi formulir yang telah disediakan oleh Puslitbun (RISPA) Medan.
  • Pembayaran dilakukan dengan cara kontan pada waktu pengambilan benih dan sesuai dengan harga yang telah ditentukan
  • Sesuai dengan keputusan Dirjen Perkebunan No.KB 03/03BK/Dj/BUN/1/1985, Puslitbun (RISP) Medan dapat memberikan tambahan benih sebanyak 2,5% dari jumlah pemesanan
 Pengadaan bibit dari kultur jaringan

Bibit yang berasa dari kultur jaringan dianggap lebih praktis atau mutunya lebih dapat dipercaya. Hanya sayangnya, belum semua perkebunan kela sawit dapat memproduksinya. Satu satunya jalan yang dapat ditempuh adalah dengan memesan ke produsen yang telah mengusahakan

Pengiriman dan pemesanan Bibit

Saat ini bibit yang berasal dari metode kultur jaringan sudah dapat dipesan di beberapa laboratorium kultur jaringan yang telah mengusahakannya. Untuk menghindari risiko kematian bibit kelapa sawit salam dalam perjalan, maka cara pengiriman bibit harus disesuaikan dengan jarak tempat pemesanan.

Untuk didaerah Sumatera Utara, sebaiknya bibit dikirim pada usia akhir tahap prenursery. Bibit dikirim dengan media tanah. Pengiriman bibit ke daerah diluar Sumatera juga masih pada usia akhir prenursery, tetapi pengiriman tanpa media tanah. Cara pengirimannya adalah dengan mengikat bibit bibit tersebut menjadi satu kumpulan, dan akar bibit dibungkus dengan kapas yang sebelumnya telah dibasahi dengan air gula 2,5%. Ada perlakuan khusus begitu bibit sampai ditempat pemesanan. Akr segera ditanam di main-nursey. Selama dua minggu pertama, bibit diberi naungan

Pengiriman bibit dari klon kultur jaringan dimasa mendatang, direncanakan dikirim dalam tabung tabung. Perlu diketahui, bahwa untuk memproduksi bibit dari persediaan embryoid memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, untuk memperlancar pengiriman bibit kelapa sawit, dianjurkan agar pemesanan dilakukan kurang lebih lima bulan sebelum waktu yang ditentukan. Keterangan lebih lanjut dapat ditanyakan ke pusat Penelitian Marihat, Balai Penelitian Perkebunan Medan, atau ke PT Socfindo Medan

Keuntungan Penggunaan teknik kultur jaringan

Satu hal yang menarik dari penggunaan daun muda dan akar sebagai eksplan pada kelapa sawit telah terbukti. Penggunaan daun muda jauh lebih baik daripada akar. Disebabkan letaknya yang ada dalam tanah, maka pada praktiknya cukup sulit untuk mengambil ujung akar yang tepat. Padahal macam dan umur ujung akar akan mempengaruhi macam media yang digunakan. Walaupun begitu, karena daun mudanya terletak dengan titik tumbuh, pengambilannya harus dilakukan dengan hati hati agar tidak menyebabkan kematian pohon induk

Penggunaan teknik kultur jaringan pada tanaman kelapa sawit terbukti memberikan beberapa keuntunganl keuntungan pertama, dalam waktu singkat dapat dihasilkan bibit dalam jumlah banyak. Meskipun bibit berasal dari induk yang sama, dapat dibuktikan bahwa penggunaan bibit dari biji, ukuran dan berat tandan, rendemen minyak, dan tinggi pohon. Kelainan kelainan genetis tersebut ternyata dapat dihindari  dengan penggunaan klon dari teknik kultur jaringan. Keuntungan lain yang dapat dipetik adalah dapat meningkatkan produksi. Dari hasil penelitian di Malaysia, disebutkan bahwa produksi meningkat sekitar 30%/ha, dengan penggunaan klon hasil persilangan D x P

Meskipun masih dalam tahap perkembangan, tetapi dengan hasil yang telah diperlihatkan, tekonologi kultur jaringan memberikan prospek yang cerah untuk meningkatkan komoditas sektor perkebunan khususnya kelapa sawit. Walaupun demikian, penyebarluasan bibit asal klon masih menanti pengamatan lebih lanjut mengenai hasil minyaknya. Sebab, bagaimanpun minya merupakan hasil olahan utama dari budidaya kelapa sawit.

Kategori: Perennial plants

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: