Memperoleh bibit dengan cara budidaya sendiri, tentunya dapat dilakukan oleh perkebunan perkebunan yang mempunyai persediaan biji kelapa sawit dalam jumlah banyak dan sudah jelas diketahui keunggulannya. Kegiatan mendapatkan bibit kelapa sawit dimulai dengan melakukan seleksi biji, mengecambahkan, menyemaikan dan membibitkannya

  1. Seleksi dan pengecambahan biji

Seleksi bibit penting dilakukan karena akan menentukan hasil dan kualitas kelapa sawit. Untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul, biji diperoleh dari persilangan varietas unggul pula. Dari hasil pengamatan dan pengujian, di Indonesia lebih banyak digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan Dura dan Pisifera.  Hasil persilangan ini dianggap sebagai persilangan terbaik secara ekonomis, yaitu didasarkan pada kriteria produksi minyak per hektar, mutu minyak, pertumbuhan vegetatif dan daya tahan terhadap penyakit tajuk serta ganoderma.

Biji untuk bibit diambil dari tandan buah yang besar dari pohon yang telah diseleksi dan diketahui sifat sifatnya. Pengambilan biji ini dilakukan setelah tandan matang. Tandan dianggap telah cukup matang jika ada satu atau dua buah yang jatuh. Buah yang telah dipilih dagingnya dikupas dengan pisau atau dengan alat pengupas daging buah (depericarper) kemudian dicuci bersih tidak mengandung minyak lagi.

Agar benih cepat tumbuh dan pertumbuhannya merata, biji biji perlu dikecambahkan terdahulu. Karena kulit biji atau cangkang buah kelapa sawit bersifat keras, maka untuk mempercepat perkecambahnnya dapat dilakukan beberapa hal berikut:

  • Menipiskan kulit yang keras dan tebal dengan cara mengasahnya tetapi tidak sampai melukai daging biji
  • Melarutkan biji dalam larutan HCl 0,1%

Berikut adalah beberapa cara pengecambahan biji kelapa sawit

  1. Pengecambahan terbuka

Cara pengecambahan ini adalah yang paling sederhana dan paling sering dilakukan orang. Biji biji disemaikan di dalam bedengan bedengan terbuka dengan media pasir dan tanah setebal 20 cm. Biji biji di deder setebal kurang lebih 3 cm dibawah media dan disiram sekali sehari. Persentase pengecambahan biji dengan cara ini rata rata mencapai 50% dalam waktu 6 bulan

  1. Pengecambahan dalam peti (Pengecambahan fermetasi)

Alat dan bahan yang digunakan pada pengecambahan dengan cara ini adalah:

  • Peti pemeraman yang berukuran 400 x 90 x 60 cm
  • Peti pengecambahan dengan ukuran 40 x 20 x 20 cm
  • Bahan pemeraman yang berupa serbuk arang, daun pisang, daun pepaya, daun jagung atau daun kacang kacangan yang diiris kasar

Biji biji yang akan disemai dimasukkan ke dalam peti pengecambahan setelah dicampur serbuk arang dengan perbandingan isi yang sama. Diatas campuran tersebut di beri serbuk arang sampai penuh. Peti peti pengecambahan dimasukkan ke dalam peti pemeraman yang telah di isi bahan pemeran (daun daunan) setelah 20 cm. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari. Bahan pemeraman ini akan mengalami fermentasi secara lambat sehingga suhu ruang peti pemeraman meningkat

Pada peti pemeraman bisa dipasang alat pengukur suhu. Suhu yang paling baik adalah 38-400C. Untuk mempertahankan suhu dapat dilakukan dengan mengurangi bahan pemeraman setiap 3-4 minggu. Biji akan mulai berkecambah mencapai 50% setelah 2 bulandan kira kira 80% setelah 3-4 bulan

Pengecambahan dengan cara ini sangat cocok untuk penyediaan bibit dalam jumlah besar karena setiap peti pemeraman dapat mengecambahkan kira kira 6000 butir biji

  1. Pengecambahan dengan pipa air panas

Pengecambahan dengan cara ini memerlukan alat berupa rumah kecambah yang dapat dipanaskan dengan uar air dari pabrik dan kotak seng berukuran 40 x 25 25 cm

Kotak seng diisi dengan campuran arang dan pasir dengan perbandingan 2:1, setebal 5 cm kemudian disiram air sampai lembab. Kotak seng dimasukkan ke dalam rumah kecambah, disusun dalam rak rak dan ke dalamnya dialirkan uap air. Suhu dalam kotak kecambah dipertahankan antara 38-400C dengan cara mengatur aliran uap air yang masuk ke dalam rumah kecambah. Setelah 3 bulan perkecambahan mencapai kurang lebih 80%.

Persemaian

Persemaiaan terutama bertujuan untuk memperoleh bibit yang merata pertumbuhannya sebelum dipindahkan ke pembibitan. Medium pesemaian biasanya dipilih pasir atau tanah berpasir. Persemaian dapat dilakukan dengan dua cara, dalam bentuk bedengan atau polybag

  1. Persemaian dalam bentuk bedengan

Ada dua cara persemaian dalam bentuk bedengan yaitu: di atas tanah langsung atau dengan bak semai. Persemaian di atas tanah langsung dilakukan dengan cara mencangkul tanah sedalam 20 cm, digemburkan lalu dicampur dengan pasir yang telah diseterilkan. Agar media menjadi steril perlu disiram dengan parathion sebanyak 8 gram dalam 9 liter air. Bedengan dibuat dengan lebar 100-125 cm, panjang sesuai dengan kebutuhan dan diseklilingnya dipasang batu bata, kayu, atau bambu. Selain bedengan di atas tanah, adapula bedengan yang terbuat dari kotak berukuran 120 x 60 x 15 cm atau sering disebut bak semai, maka bak bak semai ditempatkan diatas para para setinggi 60 cm

Benih yang telah berkecambah ditanam dengan jarak 7,5 x 7,5 cm sedalam 2-5 cm atau tergantung panjang akarnya. Jarak tanam tidak boleh terlalu rapat karena dapat menyebabkan kekurangan nitrogen. Sedikit demi sedikit naungan dalam persemaian dikurangi dan akhirnya dihilangkan sama sekali. Akan tetapi di daerah yang sangat terik, naungan tetapi dipertahankan sesuai kebutuhannya. Agar tidak kekeringan, bibit harus disiram dengan frekuensi penyiraman tergantung pada kondisi tempat persemaian,penyiraman dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore.

Agar bibit tumbuh dengan baik, perlu pemupukan, terutama dengan pupuk yang mengandung nitroggen, misalnya ammonium fosfat (16% , 20% P2O5) setiap dua minggu sekali. Setiap 400 kecambah yang disemaikan membutuhkan 56 gram pupuk yang dilarutkan  dalam 18 liter air. Setelah 4 bulan dipersemaian dan berdaun 2-4 helai, benih mulai dapat dipindahkan ke pembibitan dengan cara putaran atau cabutan.

  1. Persemaian dengan polybag

Selain di bedengan, persemaian dapat dilakukan suatu tempat tertentu seperti kantong plastik, keranjang bambu atau bakul. Diantara wadah wadah itu, yang paling sering dipakai adalah kantong plastik hitam (polybag) dengan garis tengah 15 cm dan tinggi  16 cm, sebab lebih praktis dan harganya cukup murah

Tanah media yang telah bersih dari kotoran dimasukkan ke dalam polybag secukupnya. Benih yang telah berkecambah dan berakar ditanam sedalam 2-5 cm di tengah tengah polybag dengan hati hati dan dijaga agar akarnya tidka patah

Bibit yang telah dipindahkan selama 2 minggu ditempatkan dibawah  naungan  dan sedikit demi sedikit intensitas cahaya yang masuk ditingkatkan. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore. Pemupukan dapat menggunakan urea atau pupuk majemuk (N : 15, P:15, K:16, Mg:4). Setiap 400 bibit membutuhkan 56 gram urea yang dilarutkan dalam 18 liter air, sedangkan jika menggunakan pupuk majemuk hanya 28 gram dan dilarutkan dalam 18 liter air. Pemupukan tersebut dilakukan setiap minggu dan setelah dipupuk sebaiknya tanaman disiram lagi dengan air agar daun tidak hangus. Setelah 3 bulan dipersemaian mulailah dilakukan seleksi bibit. Bibit yang tumbuh kerdil dan abnormal dibuang, sedangkan sisanya dipindahkan ke pembibitan setelah mempunyai empat sampai lima daun.

Pembibitan

Bibit tidak dapat langsung ditanam dilapangan karena beberapa alansan diantaranya sebagai berikut:

  • Bibit terlalu kecl sehingga mudah terganggu pertumbuhannya, baik oleh hama maupun penyakit
  • Pertumbuhan bibit tidak seragam, terutama pada bibit yang sangat muda
  • Persiapan penanaman memerlukan waktu yang lebih lama daripada pemindahan bibit

Dari beberapa alasan tersebut, maka tujuan pembibitan adalah agar bibit sudah cukup kuat dan besar sebelum ditanam dilapang, juga agar pertumbuhan semua bibit dapat seragam. Tempat pembibitan dipilih pada tanah yang subur, datar serta berdekatan dengan sumber air maupun areal kebun yang akan ditanami. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengangkutan. Pada dasarnya ada dua macam cara pembibitan yaitu, pembibitan dilapangan dan pembibitan dengan kantong plastik besar.

  1. Pembibitan dilapangan

Pembibitan dilapangan jika tersedia tanah yang cukup memenuhi persyaratan, antara lain sifat fisik dan fopografinya baik, tersedia cukup air dan cukup luas.

Langkah pertama pengelohan tanah pembibitan adalah mencangkulnya sedalam 40 cm sembil membersihkan tanaman pengganggu atau kotoran yang ada.  Kemudian dibuat seluran drainase. Untuk menambah kesuburannya, tanah dipupuk dengan pupuk kandang 10 ton/ha atau campuran dari  500 kg pupuk urea dan pupuk TSP 500 kg/ha. Jika tanah terlalu asam dapat diberi kapur tohor sebanyak 1-2/ha

Areal pembibitan sebaiknya dibagai menjadi bedengan yang lebarnya cukup untuk 5-10 barisan bibit, panjang bedengan antara 30-35 m dan jarak antarbedengan 70cm. Bibit yang berasal dari pesemaian, baik dari semai maupun polybag, biasanya berupa bibit putaran atau cabut. Apabila bibit dipilih bibit putaran sebaiknya disertakan pulah tanah yang ada disekitar peraktaran. Jarak tanam bibit ini 60 x 60 atau 75 x 75 cm, tergantung dari lamanya waktu pembibitan. Dengan jarak tanam tersebut, diperkirakan terdapat 20.000 bibit dalam satu hektar

Ukuran lubang tanam dibuat sesuai dengan besar tanah (pada bibit putaran) atau panjang akar ( pada bibit cabutan). Sisi tegak lubang tanam berfungsi untuk menyandarkan bibit agar dapat berdiri tegak. Sewaktu bibit dipindahkan, hendakanya jangan sampai terjadi kerusakan sebab akan mengganggu pertumbuhannya kelak

Penyiraman tanaman dapat disesuaikan dengan keadaan setempat, yaitu tergantung pada curah hujan, suhu, dan penguapan, baik oleh tanah maupun tanaman. Satu bibit minimal membutuhkan 3 liter air setiap minggu. Sedangkan pada cuaca terik rata rata 10 liter air

Mengenai pemupukan, ada beberapa macam anjuran seperti berikut ini:

  • Setelah 1 bulan bibit dipindahkan, dipupuk dengan 10 gr ZA/tanaman, melingkar 10 cm dari tanaman. Satu bulan kemudian dosis dinaikkan menjadi 12 gram/tanaman dan sesudah itu tidak dipupuk lagi
  • Satu bulan setelah dipindahkan, dipupuk dengan 5 gr ZA/ bibit dengan cara yang sama. Pada bulan ke 2, 3, dan 4 berturut turut diberikan 10 gr, 10 gr dan 15 dengan jarak dari pohon lebih dari 10 cm
  • Pada bulan ke 1, 3, 5 dan 6 dilakukan pemupukan masing masing dengan 14, 28, 42 dan 42 gr pupuk campuran (1 bagian anmmonium sulfat : 1 bagian super fosfat : 1 bagian kalium sulfat : 2 bagian magnesium fulfat)

Bibit berumur antara 122-14 bulan, mulai dapat dipindahkan ke lapangan. Pemindahan bibit sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Jika terpakasa dipindahkan pada musim kemarau, maka 2 minggu sebelum dipindahkan bibit disiram 2 kali sehari pada pagi dan sore

Bibit yang dipindakan dipilih yang sehat dan seragam pertumbuhannnya. Untuk keperluan penyulaman, disediakan bibit sebanyak 15% dari jumlah tanaman yang dibutuhkan. Satu hektar pembibitan akan mempu menyediakan bibit untuk 120 ha pertaman dikebun dengan kerapan tanaman 143 pohon/ha.

  1. Pembibitan kantong plastik besar

Pembibitan dengan cara ini dianjurkan jika tidak tersedia tanah yang cukup luas dan memenuhi syarat. Ukuran kantong plastik besar yang digunakan untuk pembibitan adalah dengan tinggi 50 cm, garis gengah 38 cm, dan berwarna hitam. Alas kantong plastik dilubangi dengan garis tengah 5 mm berjarak 7,5 x 7,5 agar sisa air siraman dapat mengalir keluar

Kantong plastik untuk pembibitan di isi dengan tanah lapisan atas (top soil) yang telah dicampur dengan pupuk kandang perbandingan 3:1, seberat kurang lebih 17,5 kg. untuk mencegah hama dan penyakit, sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik, campuran tanah dan pupuk kandang tersebut disetrilkan dengan cara pemanasan

Bibit yang akan ditanam di pembibitan dapat berasal dari pesemaian bedengan atau polybag. Kantong kantong plastik dalam pembibitan diatur berbentuk segitiga samasisi dengan jarak 90 cm. Penyiraman pada kebutuhan, jumlah air yang diperlukan kira kira 9-18 liter/minggu/bibit

Kategori: Perennial plants

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: