Apa itu kebiijakan moneter? Kebijakan moneter merupakan suatu proses mengatur dan mengelola persediaan uang negara agar dapat mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengontrol laju inflasi, atau meningkatkan peluang lapangan kerja.

Pengertian Kebijakan Moneter

  • Warjiyo & Solikin (2003)

“Pengertian kebijakan moneter adalah suatu kebijakan otoritas moneter atau bank sentral (Bank Indonesia) dalam bentuk pengendalian besaran moneter dengan maksud untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan.”

            Kebijakan moneter juga memiliki definisi lain yaitu upaya pemerintah dalam mengendalikan atau mengarahkan perekonomian makro suatu negara menuju pada kondisi yang diinginkan (yang lebih baik) dengan cara mengatur jumlah uang beredar.

            Kebijakan moneter merupakan bagian dari kebijakan bank sentral atau otoritas moneter yang dilakukan dalam bentuk pengendalian besaran moneter, yang bertujuan untuk mencapai perkembangan kegiatan perekonomian yang diharapkan.

            Pemerintah serta otoritas moneter dapat mengambil kebijakan moneter dengan maksud mempertahankan, menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, sebagai upaya untuk mempertahankan kemampuan ekonomi agar tetap tumbuh dan berkembang, sekaligus untuk mengontrol inflasi.

            Kebijakan moneter suatu negara meliputi langkah-langkah kebijakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia atau bank sentral untuk mengubah penawaran uang atau dalam hal ini mengubah suku bunga yang ada, dengan tujuan untuk mempengaruhi pengeluaran dalam perekonomian. Suku bunga sangat mempengaruhi kondisi perekonomian serta tingkat inflasi dalam suatu negara.

Tujuan Kebijakan Moneter

            Tujuan utama dari sebuah kebijakan moneter adalah suatu kondisi ekonomi makro yang tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Setiap negara memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam kebijakan moneter yang diambilnya.

            Kebijakan moneter yang ditetapkan oleh suatu negara bukan merupakan kebijakan statis, namun cenderung dinamis karena kebijakan moneter harus mengikuti kebutuhan dan kondisi perekonomian suatu negara dan lingkup global. Namun pada dasarnya tujuan dari kebijakan moneter mencakup 4 hal yaitu diantaranya:

  • Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan.
  • Kestabilan harga terutama harga komoditas pokok.
  • Keseimbangan neraca pembayaran.
  • Kesempatan kerja.

Selain keempat tujuan pokok diatas, ada beberapa tujuan lain dari kebijakan moneter yang lebih lengkap, yaitu:

  • Memperdagangkan mata uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dalam perekonomian.
  • Menjaga stabilitas ekonomi, yang meliputi pertumbuhan arus barang dan jasa harus seimbang dengan pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
  • Distribusi likuiditas yang optimal dengan maksud menggapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan pada berbagai sektor ekonomi.
  • Menjaga kestabilan harga terutama untuk harga komoditas pokok dimana harga merupakan hasil interaksi antara jumlah uang yang beredar dengan jumlah uang yang tersedia di pasar.
  • Mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan likuiditas perekonomian dan kestabilan tingkat harga.
  • Membantu pemerintah untuk melaksanakan kewajibannya yang belum terealisasikan melalui sumber penerimaan yang normal.
  • Memperbaiki neraca perdagangan kerja masyarakat dengan cara meningkatkan ekspor serta mengurangi impor.
  • Meningkatkan kesempatan kerja. Ketika perekonomian stabil, pengusaha melakukan investasi untuk menambah jumlah barang dan jasa untuk membuka lapangan kerja baru sehingga memperluas kesempatan kerja masyarakat.

Jenis dan Indikator Kebijakan Moneter

            Kebijakan moneter yang ada di Indonesia, terbagi menjadi 2 jenis, yaitu kebijakan moneter kontraktif dan kebijakan moneter ekspansif.

  1. Kebijakan Moneter Kontraktif

Kebijakan moneter kontraktif adalah kebijakan moneter yang membatasi atau mengurangi jumlah uang berdar, hal ini dikarenakam perekonomian sedang mengalami kenaikan tingkat inflasi diatas batas wajar. Kebijakan kontraktif dilakukan jika kondisi perekonomian mengalami laju inflasi yang tinggi.

  1. Kebijakan Moneter Ekspansif

Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan moneter dengan cara menambah jumlah uang beredar dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat pada saat perekonomian sedang melemah atau resesi. Jadi, otoritas moneter akan menambah jumlah uang yang beredar untuk meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat, dengan cara pemberian modal misalnya.

            Dalam mengukur keberhasilan kebijakan moneter, bank sentral dapat menggunakan 3 indikator berikut ini. Ketiga indikator tersebut adalah:

  • Uang Beredar (Monetary Targeting)

Menetapkan pertumbuhan jumlah uang beredar sebagai sasaran menengah. Kelemahan dari indikator uang beredar adalah penerapannya tergantung pada kestabilan hubungan antara besaran moneter dengan sasaran akhir. Sedangkan kelebihannya adalah memungkinkan pelaksanaan kebijakan moneter yang independen sehingga Bank Indonesia (bank sentral) bisa fokus dalam mencapai tujuan.

  • Penargetan Nilai Tukar (Exchange Rate Targeting)

Menetapkan dan menyesuaikan nilai mata uang domestik terhadap mata uang negara-negara besar yang memiliki laju inflasi rendah seperti dollar Amerika. Kelemahan dari indikator ini adalah cukup rentan karena ilai tukar bergantung pada kondisi perekonomian negara lain yang sifatnya adalah spekulatif. Sedangkan kelebihannya adalah kebijakan lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan dapat meredam inflasi.

  • Target Inflasi (Inflation Targeting)

Penetapan target inflasi ini merupakan target jangka menengah dan bermaksud untuk mencapai stabilitas harga sebagai tujuan jangka panjang. Kekurangannya adalah sulit untuk memprediksi kondisi perekonomian di masa depan. Sedangkan kelebihannya adalah dapat meningkatkan akuntabilitas bank sentral.

Instrumen Kebijakan Moneter

            Dalam menetapkan kebijakan moneter, pemerintah dan otoritas moneter memiliki instrumen-instrumen moneter, diantaranya adalah:

  1. Kebijakan Operasi Pasar Terbuka

            Kebijakan operasi pasar terbuka merupakan salah satu kebijakan yang dapat diambil oleh bank sentral untuk menambah atau mengurangi jumlah uang beredar dalam masyarakat. Ada banyak cara yang dilakukan dengan kebijakan operasi pasar terbuka seperti menjual Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau membeli surat berharga di pasar modal.

  1. Kebijakan Cadangan Kas

            Kebijakan cadangan kas merupakan kebijakan dimana Bank sentral dapat membuat peraturan untuk menaikkan atau menurunkan cadangan kas (cash ratio) bank umum. Kebijakan ini tujuannya juga untuk mengontrol peredaran uang dimasyarakat. Jika cadangan kas diturunkan maka bank bisa menyalurkan dana kepada masyarakat lebih banyak dan uang beredar lebih banyak. Begitu pula sebaliknya, jika cadangan kas dinaikkan maka bank akan lebih ketat menyalurkan kredit atau pendanaan kepada masyarakat sehingga jumlah uang yang beredar meningkat.

  1. Kebijakan Kredit Ketat

            Kebijakan Kredit ketat merupakan kebijakan tentang pemberian kredit kepada masyarakat dimaana Bank umum tetap memberikan kredit namun pemberiannya harus benar disesuaikan pada syarat 5C, yaitu Character, Capability, Collateral, Capital, dan Condition of Economy. Kebijakan kredit ketat ini dilakukan untuk mengawasi uang yang beredar dimasyarakat dan digunakan pada saat ekonomi mengalami inflasi.

  1. Kebijakan Diskonto

            Kebijakan diskonto yaitu kebijakan pemerintah dimana dapat menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara mengubah diskonto bank umum. Kebijakan ini dilakukan dengan cara menaikkan suku bunga deposito jika jumlah uang beredar melebihi batas untuk merangsang hasrat orang untuk nabung sehingga uang beredar bisa terserap kembali.

  1. Kebijakan Dorongan Moral

            Kebijakan ini dilakukan apabila kondisi perekonomian melemah yaitu dengan cara bank sentral memberikan pengumuman, pidato, dan edaran yang ditujukan pada bank umum dan pelaku moneter lainnya. Dimana isi dari pengumuman, pidato, dan edaran tesebut dapat berupa ajakan atau larangan untuk menahan pinjaman tabungan atau pun melepaskan pinjaman. Namun kebijakan ini dinilai kurang efektif dan hanya bersifat pendorong saja daripada intrumen yang lain.

Tolok Ukur Kebijakan Moneter

            Menetapkan suatu kebijakan moneter tentu tidak semua berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Mengetahui tercapai atau tidaknya kebijakan moneter merupakan suatu langkah untuk mengevaluasi kebijakan demi kebijakan nantinya yang lebih baik. Untuk mengukur apakah kebijakan moneter yang dilakukan sesuai target atau tidak, ada beberapa tolak ukur yang bisa digunakan yaitu diantaranya:

  • Jumlah Uang Beredar (JUB)
  • Laju inflasi yang cukup rendah terkendali
  • Suku bunga pada tingkat yang wajar
  • Nilai tukar rupiah yang realistis,
  • Ekspektasi atau harapan masyarakat terhadap kondisi moneter

Kelima hal tersebut adalah indikator yang bisa digunakan pemerintah untuk menentukan kebijakan moneter atau melihat keberhasilan suatu kebijakan moneter.

Demikian itulah, penjelasan lengkap mengenai kebijakan moneter dari pengertian, tujuan, jenis dan indikator, instrume moneter hingga tolak ukur keberhasilan kebijakan moneter. Semoga pembahasan kali ini bermanfaat!! Terimakasih

Sumber

  1. https://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/moneter/instrumen-kebijakan-moneter

[collapse]

Kategori: Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: